Memahami Prinsip Kerja RAID – Bagian 2

Computer, Information

Yup, sekarang kita masuk ke bahasan selanjutnya. Masih tentang RAID, yaitu RAID 1 dan RAID 5.

RAID 1

RAID 1 (satu) merupakan konfigurasi RAID mirroring (cermin) yang artinya konten pada sebuah HDD merupakan cerminan HDD lainnya yang tergabung dalam RAID 1 tersebut.

Sistem kerja dari RAID 1 adalah penyebaran blok data pada sebuah HDD disebar ke HDD yang lainnya sehingga setiap HDD memiliki konten/isi data yang sama persis atau identik. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

ScreenShot037

Image source : http://www.thegeekstuff.com/

Blok data A, B dan C pada Disk 1 akan dicerminkan ke Disk 2 sehingga kedua HDD tersebut menjadi sama isi dan konfigurasinya. Apabila terjadi kerusakan pada salah satu HDD maka HDD lainnya dapat menggantikan fungsi dari HDD yang rusak tersebut.

Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 1 dengan Harddisk B (merk Seagate, 7200RPM 8Mb cache, 320GB). Maka hasilnya adalah *tidak tahu* karena Saya belum pernah mencobanya. Sepertinya harus menggunakan HDD yang identik agar hasil yang didapat bisa maksimal.

Jadi kita anggap saja HDD A akan dikonfigurasi RAID 1 dengan HDD yang identik (A’). Sehingga hasilnya didapat:

HDD A (500GB) + HDD A’ (500GB) = 500GB

Apabila terjadi kerusakan secara fisik pada HDD A maka HDD A’ dapat menggantikan secara langsung tanpa perlu melakukan reboot/shutdown/logoff komputer sehingga downtime menjadi tidak diperlukan.

Kebutuhan HDD untuk membentuk konfigurasi RAID 1 adalah minimal 2 HDD dan disarankan dengan merk, tipe dan kapasitas yang sama.

Konfigurasi RAID 1 cocok untuk sistem yang membutuhkan reliability dan ketersediaan data yang tinggi (Highly Available).

RAID 5

Raid 5 merupakan konfigurasi RAID yang menggunakan teknologi parity (penyeimbang) yang terdistribusi, sehingga memperkecil potensi bottleneck yang terjadi akibat multiple akses yang dilakukan ke HDD RAID 5.

Mari kita lihat ilustrasinya.

ScreenShot055

Image source : http://www.thegeekstuff.com/

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa parity (p1, p2 & p3) terdistribusi ke setiap HDD yang dikonfigurasi RAID 5. Jumlah minimum HDD untuk dapat dikonfigurasi RAID 5 adalah 3 buah. Selanjutnya, berlaku rumus (n+1, n>1).

Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 5 dengan Harddisk B & C (identik dengan HDD A).

Maka hasilnya adalah sbb;

HDD A (500GB) + HDD B (500GB) + HDD C (500GB) = 1000GB (1 Terra)

Hanya sekitar 70% dari total seluruh kapasitas gabungan HDD RAID 5 yang aktualnya dapat digunakan.

Konfigurasi RAID 5 sangat bagus dari segi price/perfomance. Oleh karena itu sangat disarankan untuk digunakan pada sistem yang menggunakan database secara intens, namun database yang dimaksud hanya diakses baca saja (read only), bukan untuk akses tulis (access write).

OK, sekian untuk pembahasan RAID pada artikel kali ini. Di artikel selanjutnya kita akan mencoba membahas tentang contoh gabungan dari teknologi RAID, yaitu RAID 1+0 & 0+1.

Semoga bermanfaat.

Satu pemikiran pada “Memahami Prinsip Kerja RAID – Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s